Friday, June 09, 2006

An honest message from Yogyakarta

Jakarta Post, 6th June 2006
B. Herry-Priyono, Jakarta

I have received numerous messages in recent days from friends doing relief work in Yogyakarta and surrounding areas. Some berate the sluggishness of the relief effort, but most of them express disgust, and rightly so, for the many Jakarta-based cabals who have unscrupulously turned the disaster into a stage for their publicity efforts. These are not only officials and politicians, but also the heads of non-governmental organizations and corporate managers.

On May 30, for instance, I received a message from a certain business manager: "Hi, it's me. I look for some groups doing relief work to whom I could give donation in cash, but it is my company that gets the publicity."

This is just one of many similar requests that heartlessly ignored the agony of victims. Why on earth has this sort of attitude become so widespread? In the aftermath of the Aceh tsunami, this same attitude was rampant. What kind of society is this?

For the sake of sanity, this sort of idiocy must be stopped. The message is clear: Help the victims as generously as you can, and make sure that your donations reach the real victims. Otherwise, and this is for the publicity hounds, shut up! This message has been strongly expressed by friends who are working day and night to make sure all of the victims are attended to.

They, for instance, are outraged by a high-ranking official who recently flew to Yogyakarta, bringing with him around 40 journalists to cover a press conference he gave. People in Yogyakarta quickly began calling him kadal, a derogatory Javanese term for "sucker".

What is outrageous is that these cabals also underestimate the intelligence of the Yogyakarta people. This is a blatant mistake. The rich human resources of Yogyakarta simply cannot be underrated. And beware, they are making a list of all the people in these cabals, and do not be surprised if this list is soon in wide circulation. If you are one of those people they consider to be a publicity grabber, you may find your name on it. You may have started with a thirst for publicity cloaked in philanthropy, but could end up being an outcast.

Of course, relief operations work on consequentialist logic; that is, what really counts is whether your donation reaches the people intended, regardless of your motives. But consider this: Would you donate if there was no publicity? Yogyakarta is blessed with many intelligent people, and they know how to turn your thirst for publicity against you. Treat them with respect, and the only way to do that is to focus on the challenges ahead.

First, stop all the publicity grabbing and stick to what can be offered to help the victims, without any spotlight. Any support for those affected by the earthquake is invaluable, from baby milk to medical supplies, from underwear to tents, from motorbikes to blankets.

Unrealized pledges are useless, for an unrealized pledge is a mask that eats the pledger's face. This, of course, happened blatantly in the aftermath of the tsunami in Aceh. Beware, the intelligent people of Yogyakarta will turn your unrealized pledges into weapons against you in the future.

Second, while the people's economy is temporarily in disarray, the temptation is to envision the reconstruction operation by treating the people of Yogyakarta as ignorant victims. The people of Yogyakarta, not outsiders, must be given leadership roles. Those unfamiliar with the local way of thinking can better support them from behind. This is crucial for several reasons.

Third, one of these reasons is that reconstruction involves many aspects of the victims' lives. After their houses are physically rebuilt comes the tedious process of revitalizing the economic, cultural, social, legal and political lives. Here lies the real test of reconstruction, for these aspects can only be done simultaneously in a gradual manner, and in real terms they are closely interconnected.

The best way to do this is through community development, in which economic, cultural, social, legal and political revitalization is embedded in the real lives of the community members. Let the rich human resources of Yogyakarta and its surroundings take the lead in this process.

Fourth, the simultaneity of economic, cultural, social and political reconstruction led by local personnel is crucial. Some friends now working in Aceh have learned the mistakes. It is common to find that overseas donors have abundant financial resources to help reconstruction in Aceh, and have nothing but good will. They employ their own officers in the field.

But community development is a long process. Capital formation by way of credit unions, for instance, is one step to rebuild the entrepreneurial capacity of community members, and it involves simultaneously cultural, social and political education. There is no economy separated from culture, as much as there is no politics separated from social life.

Very often officers from overseas donors have no patience. It is not unusual then that they simply give away funds to each family, in one case Rp 80 million, in another Rp 75 million, and still in another case Rp 100 million. What happens to community development? It collapses. Cultural, political and social reconstruction fails, and the economic-cum-entrepreneurial education fails miserably.

Of course, the need for community development in the reconstruction process in Yogyakarta and its surroundings should not be turned into a xenophobic attitude, and it should be done in a non-sectarian manner. Yet it is clear that reconstruction through local community development is the key to recovery.

Let local community leaders take a leadership role. This is also a way to keep donated money circulating for local people, rather than being sucked back by the donors in the form of obscene salaries for their officials.

Yesterday my parents, who live in Yogyakarta, told me on the phone that looters had attempted to take advantage of the situation in several areas hit by the disaster. But villagers chased them away, if violently sometimes.

It is through such village-based community development that reconstruction should be started. In the meantime, many friends from Yogyakarta ask publicity grabbers from Jakarta to seek the spotlight in some other way.

The writer is a lecturer in the graduate program at Driyarkara School of Philosophy, Jakarta.

Repotnya Jadi Dermawan di Indonesia

oleh: Parwito
Bisnis Indonesia, 29/05/2006

Bencana tsunami yang melanda Aceh dan Nias memberikan banyak pelajaran bagi bangsa Indonesia. Salah satunya adalah dalam menghadapi bencana, bantuan masyarakat justru datang lebih cepat dibanding bantuan pemerintah.

Spontanitas masyarakat luar biasa besarnya. Ada yang membuka posko, ada yang menjadi relawan, dan ada yang mengumpulkan sumbangan berupa barang maupun uang. Ternyata sifat kegotongroyongan bangsa ini belum luntur, masih ada semangat kebersamaan yang kuat untuk membantu sesama.

Tidak terbayang apa jadinya jika kita menyerahkan seluruhnya penanganan bencana alam hanya kepada pemerintah.

Dari kasus tsunami Aceh juga bisa diambil kesimpulan bahwa masyarakat justru lebih banyak memilih lembaga-lembaga nonpublik sebagai tempat menyalurkan dana.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada Palang Merah Indonesia atau Departemen Sosial, yang telah bekerja secara sistematis dan terus-menerus di bidang kemanusian, ternyata masyarakat lebih memilih institusi media massa sebagai tempat menyalurkan bantuan.

Salah satu nilai tambah menyumbang melalui media, selain diumumkan nama para penyumbangnya, masyarakat juga bisa memperoleh informasi dan ikut mengawasi secara langsung kegiatan apa yang dilakukan oleh institusi itu.

Tulisan ini tidak bermaksud mempertentangkan peran institusi, tapi mencoba membuka mata bahwa masyarakat bisa berperan sangat besar dalam mengatasi bencana. Bukankah orang bilang, tetangga dekat lebih bermakna dibandingkan saudara pada saat kita terkena musibah?

Dalam peristiwa gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, Sabtu pagi, masyarakat kembali menunjukkan kesetiakawanan yang tinggi.

Tentu peran pemerintah tidak mungkin diabaikan. Kepada pemerintahlah harapan terbesar penanganan bencana ini maupun pascabencana digantungkan.

Sudah saatnya peran masyarakat dalam mengatasi bencana dan masalah sosial lainnya juga dilibatkan. Bahkan tidak cukup sekadar dilibatkan, tapi juga harus didorong. Dan perlu diberikan fasilitas agar banyak tumbuh lembaga swadaya masyarakat yang kredibel untuk menangani masalah bencana, darurat dan masalah sosial lainnya.

Pada era Orde Baru, Presiden Soeharto dengan mudah menggerakan dana masyarakat, terutama pegawai negeri dan pengusaha, untuk menyumbang berbagai yayasan yang dia dirikan. Cara-cara seperti dilakukan yayasan Orde Baru jelas tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini.

Namun, pemerintah tetap punya peluang untuk melakukan hal itu dengan menggunakan instrumen kebijakan yang ada. Salah satunya adalah dengan kebijakan fiskal.

Langkah ini sebenarnya sudah dimulai sejak bencana tsunami Aceh. Saat itu, pemerintah menanggung pajak atas sumbangan untuk korban bencana gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh dan Sumatra Utara. Tujuannya adalah agar masyarakat yang menyumbang untuk bencana alam tersebut tidak lagi dibebani pajak.

Kebijakan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 609/PMK03/ 2004 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Bantuan Kemanusiaan Bencana Alam di Nangroe Aceh Darusallam (NAD) dan Sumatera Utara.

Salah satu pertimbangan yang dipakai pemerintah adalah bencana tersebut merupakan bencana nasional yang menimbulkan korban manusia dan material yang besar.

Dalam rangka menangani bencana nasional tersebut diperlukan partisipasi dan kepedulian seluruh masyarakat, khususnya para pengusaha dan wajib pajak lainnya sebagai wujud kebersamaan dan persatuan bangsa berupa pemberian sumbangan kepada korban bencana alam ini.

Sehubungan dengan hal itu diperlukan pula kebijakan pemerintah agar beban pajak yang harus dibayar oleh penyumbang bencana nasional tersebut ditanggung pemerintah. Atas dasar itu, dikeluarkan Permenkeu ini.

Sumbangan yang diberikan wajib pajak dalam rangka bantuan kemanusiaan bencana alam di NAD dan Sumut yang terjadi pada 26 Desember 2004 dapat dibiayakan atau dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak.

Sumbangan

Mengapa perlu dikeluarkan kebijakan khusus seperti itu? Selama ini, pemerintah selalu berpandangan jika masyarakat mau membantu, mau menyumbang suatu kegiatan, silakan sumbangkan uang Anda tetapi jangan sampai mengurangi hak pemerintah atas pajak yang seharusnya terutang.

Perlakuan pajak atas sumbangan adalah bagi penerimanya bukan objek pajak penghasilan dan bagi penyumbangnya tidak bisa dibiayakan.

Atau dengan bahasa sederhana, pengeluaran perusahaan atau orang pribadi untuk menyumbang suatu bencana atau suatu kegiatan apapun namanya tidak boleh dicatat sebagai biaya, sebab sumbangan tidak termasuk kategori pengeluaran yang berhubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak.

Dengan demikian biaya atau pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak, tidak boleh dikurangkan atau dibebankan.

Memang, jika sumbangan untuk tujuan apapun bisa dijadikan sebagai biaya perusahaan atau tidak ada kriteria khusus, maka pada akhir tahun tak ada uang pajak yang masuk. Semua pengeluaran perusahaan bisa-bisa dijadikan akun sumbangan.

Kriteria yang dipakai pemerintah untuk mengizinkan sumbangan dijadikan biaya baru terbatas pada sumbangan yang ditujukan untuk bencana alam, yang dikategorikan sebagai bencana nasional. Secara formal baru bencana gempa di Nias dan gelombang tsunami di Aceh yang bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.

Untuk bencana alam lainnya, sepanjang tidak dinyatakan sebagai bencana nasional, tidak berhak mendapat perlakuan pajak seperti diatur dalam Permenkeu No. 609/ PMK.03/2004.

Untuk itu, pemerintah perlu menetapkan gempa di Yogyakarta sebagai bencana nasional dan diterbitkan Peraturan Menkeu khusus untuk itu. Sebab aturan baku mengenai sumbangan untuk korban bencana nasional masih berbungkus RUU Pepajakan, sehingga belum bisa diberlakukan.

Kriteria lain yang ditetapkan Menkeu-mengacu pada kasus Aceh-penerima atau pengelola sumbangan harus instansi pemerintah antara lain Kantor Wapres, Kantor Menko Kesra, Depsos, Depkes, Depkeu dan pihak-pihak lain yang dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya termasuk PMI, media massa cetak dan elektronik dan organisasi sosial dan/atau keagamaan.

Ini berarti sumbangan langsung perusahaan kepada korban tidak bisa dibiayakan. Dan satu lagi yang perlu ditanyakan oleh calon penyumbang, apakah lembaga yang mengelola dana sumbangan tersebut sudah mendaftar ke Kantor Pajak?

Sebab jika belum terdaftar atau tidak mendaftarkan diri sampai batas waktu tertentu, bisa-bisa sumbangan Anda tetap tidak bisa diakui sebagai biaya. Di Indonesia memang aneh...mau jadi dermawan saja repot.

Thursday, June 01, 2006

Menuju Corporate Social Leadership

Ari Margiono
Senior Associate, Maverick

Suara Pembaruan, 11 May 2006

Desakan yang semakin tinggi dari masyarakat agar perusahaan tidak menjadi entitas yang selfish, mendorong banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan, atau yang dikenal dengan corporate social responsibility (CSR). Kini, perusahaan berlomba-lomba untuk hadir ditengah-tengah masyarakat melalui berbagai macam program sosial yang meriah: mulai dari pemberian beasiswa, pelayanan kesehatan kepada ibu-ibu dan anak, hingga pendampingan untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan hidup.

Namun pada pelaksanaannya banyak aktivitas CSR yang bias. Akitivitas-aktivitas yang dilakukan seringkali hanya bagian kegiatan promosi produk atau perusahaan belaka. Banyak perusahaan yang memberikan sejumlah uang dan barang kepada sekelompok masyarakat, kemudian dengan bantuan jasa pemoles citra, aktivitas tersebut di sulap menjadi aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan. Di tempat lain, perusahaan melakukan aktivitas community development dan community empowerment tanpa ada keinginan sedikitpun untuk membangun dan memberdayakan masyarakat. Yang ada dibenaknya hanya manajemen krisis. Intinya, bagaimana caranya perusahaan tidak didemo dan mendapatkan resistensi dari masyarakat.

Tulisan ini berpendapat bahwa tanpa kriteria yang jelas dan perubahan cara berpikir kita, aktivitas tanggung jawab sosial hanya akan terpuruk menjadi jargon dan akan bersifat kontraproduktif. Tulisan ini berpandangan bahwa perlu ada pergeseran pemahaman filosofis dari CSR menuju CSL (Corporate Social Leadership), sebuah bentuk kepemimpinan sosial yang jauh lebih holistik dari CSR dan yang lebih penting, dapat dilakukan oleh siapa saja – baik perusahaan multinasional, maupun perusahaan skala menengah dan kecil.

Tanggung Jawab

Walaupun hanya belakangan ini istilah CSR dikenal, sesungguhnya aktivitas community outreach atau penjangkauan masyarakat sudah dilakukan oleh perusahaan sejak dahulu kala. Bentuk community outreach yang paling primitif adalah corporate philanthropy. Yang terakhir ini merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh perusahaan, atau seseorang, untuk memberikan dana kepada individu atau kelompok masyarakat, misalnya dalam bentuk beasiswa.

Seiring waktu berlalu, corporate philanthropy (CP) kemudian berkembang menjadi corporate social responsibility (CSR). CSR berbeda dengan philanthropy dari dimensi keterlibatan si pemberi dana dalam aktivitas yang dilakukannya. Kegiatan CSR seringkali dilakukan sendiri oleh perusahaan, atau dengan melibatkan pihak ketiga (misalnya yayasan atau lembaga swadaya masyarakat) sebagai penyelenggara kegiatan tersebut. Yang jelas, melalui CSR perusahaan jauh lebih terlibat dan terhubung dengan pihak penerima (beneficiaries) dalam aktivitas sosial dibandingkan dengan CP. Aktivitas sosial yang dilakukan melalui CSR pun jauh lebih beragam.

CP maupun CSR biasanya melibatkan sumber daya dan dana yang cukup besar. Tak mengherankan jika CP dan CSR biasanya dilakukan oleh para milyuner ataupun perusahaan multinasional yang memiliki pendapatan yang tinggi. Oleh karena itu, banyak keengganan dari usaha menengah dan kecil untuk melakukan CP dan CSR.

Dalam prakteknya, CP maupun CSR sering dilakukan sebagai salah satu bagian dari promosi produk, atau yang sering disebut sebagai social marketing. Sayangnya, CP dan CSR juga sering dilandasi oleh semangat ‘cuci dosa’. Banyak para pelaku corporate philanthropy adalah para milyuner yang sudah mengeruk banyak keuntungan dari bisnis yang memiliki banyak ‘dosa’ kepada masyarakat, seperti perusahaan minyak, tembakau, dan lain sebagainya. Filosofi yang ada di benak pelaku CP dan CSR tak lain adalah: “bekerja keras selama 6 hari, kemudian berisitirahat di hari ke-7 dengan melakukan hal-hal yang baik kepada masyarakat”.

Dipahami demikian, CP dan CSR ternyata memiliki banyak kekurangan. Tak jarang masyarakat diperlakukan sebagai objek perusahaan; setelah program-program community outreach ini berakhir, budaya ketergantungan pun sering tercipta. Banyak free riders, para pialang proposal, yang rajin mengirimkan permohonan bantuan dana kepada perusahaan. Ini belum menyebut bentuk-bentuk pemerasan seperti pengerahan massa, dan ancaman-ancaman yang sering diterima oleh perusahaan.

Kepemimpinan

Hills dan Gibbon (2002) berpendapat bahwa perusahaan harus bergeser dari pemahaman CP dan CSR menuju corporate social leadership (CSL), atau kepemimpinan sosial perusahaan. CSL menaungi sebuah jalan menuju solusi win-win antara masyarakat dan perusahaan dalam sebuah bentuk partnership.

CSL menuntut perubahan cara pandang para pelaku bisnis tentang hubungan mereka dengan masyarakat. Para pelaku bisnis diminta untuk memandang aktivitas usaha yang mereka lakukan sebagai bagian dari eksistensi mereka di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu, dalam CSL perusahaan tidak lagi hanya sekedar melakukan tangggung jawab (doing the right thing) tapi juga menjadi pemimpin dalam perubahan sosial yang tengah berlangsung (making things right). Pergeseran paradigma dalam hubungan antara sektor privat (perusahaan) dan sektor publik (masyarakat) ini tentunya memberikan peluang yang tersendiri untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah global yang simpul-simpulnya dapat diperhatikan didalam delapan poin Millennium Development Goal (MDG).

Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh sebuah aktivitas CSL perusahan. Pertama, komitmen dan perubahan paradigma. Perusahaan harus menyadari bahwa entitas bisnis adalah juga merupakan bagian integral dari komunitas global. Ada aspek moral universal yang menaungi baik individu, masyarakat, pemerintah, maupun kalangan bisnis dalam berperilaku di dunia ini. Bahwa pada kenyataannya mereka tidak boleh saling merugikan satu dengan yang lainnya adalah sebuah kenyataan moral yang tidak dapat disangkal.

Kedua, dalam merancang aktivitas CSL perusahaan harus memperhatikan beberapa hal esensial yang seringkali tidak diperhatikan dalam CP maupun CSR: program-program sosial yang disusun harus beriringan dengan bidang usaha yang bersangkutan. Misalnya, perusahaan jasa komunikasi tidak dianjurkan untuk mengembangkan aktivitas sosial yang jauh dari core business yang bersangkutan. Dengan mengembangkan aktivitas yang beriringan dengan bidang usaha yang bersangkutan, perusahaan tidak perlu secara khusus mengalokasikan dana yang besar, seperti halnya pada aktivitas CP dan CSR. Perusahaan cukup mengerahkan resources yang ada dan yang tengah berjalan. Hal ini membuka peluang bagi usaha menengah dan kecil untuk juga secara aktif menyelenggarakan program-program CSL.

Ketiga, dampak positif yang dibawa oleh aktivitas CSL harus selalu bersifat berkelanjutan (sustainable). Maksudnya adalah bahwa aktivitas CSL harus selalu dirancang untuk mendorong kemandirian dan keberdayaan masyarakat (community outreach). Oleh karena itu, program CSL harus terukur dan berada dalam kerangka waktu terentu. Ini untuk menjamin dampak positif dari kegiatan community outreach yang dilakukan dapat terus terasa di tengah-tengah masyarakat sekalipun perusahaan sudah tidak lagi secara aktif terlibat di komunitas yang bersangkutan.

Dengan transformasi paradigma menuju kepemimpinan sosial perusahaan ini, maka jalan menuju perubahan sosial melalui hubungan sektor publik, masyarakat dan sektor privat yang lebih baik menjadi terbuka. Entitas bisnis dan masyarakat dapat bersinergi untuk saling meningkatkan kesejahteraan kita semua.

Menakar Keterlibatan Pemerintah dalam CSR

Ari Margiono
Senior Associate, Maverick

Bisnis Indonesia, 22 April 2006

Pemerintah memutuskan untuk mengaudit Freeport di saat tuntutan penutupan perusahaan tersebut makin meningkat. Audit juga dilakukan terhadap aktivitas community development yang disebutkan telah menghabiskan dana yang signifikan. Sementara di Cepu, masyarakat menuntut agar Exxon mengedepankan community development. Pejabat daerah bahkan menuntut untuk ditempatkan sebagai salah satu manajer yang membidangi community development (Bisnis, 24 Maret).

Community development biasanya dilakukan di bawah payung komitmen corporate social responsibility (CSR) atau yang juga dikenal dengan istilah tanggung jawab sosial perusahaan.
Dari inisiatif pemerintah untuk melakukan audit dan meningkatnya tuntutan masyarakat dan pemerintah daerah ini, ada hal yang menarik yang layak untuk dikaji di tengah menjamurnya kegiatan community development yang dilakukan oleh perusahaan di Indonesia.
Jika kasus ini menunjukkan bahwa community development merupakan lahan yang potensial untuk diselewengkan dan disalahgunakan, sehingga perlu dilakukan audit, pertanyaan yang kemudian berkembang adalah sejauh mana regulasi pemerintah tentang CSR diperlukan? Apa saja yang harus diatur dan dilakukan oleh pemerintah?
CSR sedang menjadi hal yang banyak dibicarakan dan dilakukan oleh perusahaan di Indonesia. Alasan aktivitas CSR ini memang beragam, salah satunya, aktivitas sosial ini dapat meningkatkan citra perusahaan.

Bagi para pengusung kedigdayaan pasar, CSR sesungguhnya merupakan bukti bahwa self-regulation adalah sesuatu keniscayaan. Tanpa adanya intervensi negara, perusahaan dengan sendirinya mengembangkan program CSR. Beberapa perusahaan bahkan melihat CSR sebagai bagian dari manajemen risiko.


Keberpihakan

Agar lebih sistematis, Hilton dan Gibbons (2002) menegaskan bahwa perusahaan juga harus secara serius menekankan keberpihakan kepada masyarakat. Ini penting karena perusahaan juga akan memperoleh keuntungan dari situasi win-win ini.

Karena itu, aktivitas CSR harus memenuhi syarat keberlanjutan (sustainable) dan harus berada di bidang yang beriringan dengan bidang usaha perusahaan yang bersangkutan. Pendekatan itu juga tidak akan merugikan perusahaan, karena dengan mengaitkan aktivitas CSR sejalan bidang usaha perusahaan, pengerahan sumber daya untuk CSR tidak perlu secara khusus dialokasikan terpisah.

Pendapat Hilton dan Gibbons memperkuat unsur self-regulation dari CSR dan mengimplikasikan bahwa regulasi negara sesungguhnya tidak diperlukan. Mengembangkan program CSR yang berkelanjutan dan berkaitan dengan bidang usaha merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar.

Namun, tidak sedikit yang pesimistis terhadap hal ini. Sebuah penelitian menunjukkan CSR ternyata tidak memiliki korelasi positif terhadap kontribusi finansial jangka panjang perusahaan (Vogel, 2005). Perusahaan yang melakukan CSR tidak berarti kemudian lebih menguntungkan, atau sebaliknya. Artinya, CSR merupakan faktor yang kesekian kepada kontribusi finansial perusahaan.

Vogel juga menyatakan banyak perusahaan yang menghadapi dilema ketika prinsip CSR yang dianutnya bertentangan dengan faktor yang mendorong pendapatan. Sebagai ilustrasi, perusahaan baterai akan sulit menganut CSR dalam bentuk pelestarian lingkungan karena produk yang mereka hasilkan dapat memberikan dampak buruk kepada lingkungan.

Sebagian permasalahan ini memang juga disebabkan oleh masyarakat yang masih enggan membeli produk yang ramah lingkungan. Tidak banyak masyarakat yang merasa perlu membeli produk yang mendukung program CSR perusahaan.

Temuan Vogel ini merupakan suatu hal yang serius. Ada logika internal dan common sense yang sedang digugat. Ini berarti perusahaan melakukan CSR bukan karena aktivitas tersebut akan dengan sendirinya meningkatkan keuntungan perusahaan. Beberapa perusahaan melakukan CSR karena percaya bahwa CSR merupakan tindakan yang benar. CSR dilakukan bukan karena secara finansial menguntungkan. Ia dilakukan karena para eksekutif perusahaan mempercayai bahwa berbuat baik itu benar. Jika demikian pemahamannya maka CSR sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan self-regulation.

Lebih positif

Meski demikian, Vogel memandang CSR tetap membawa hal baik. Menurutnya, akibat banyak perusahaan yang percaya bahwa mereka melakukan hal yang baik melalui aktivitas keperdulian sosial, CSR telah mengubah interaksi antara perusahaan dan masyarakat. Hubungan perusahaan dan masyarakat menjadi jauh lebih positif, dan lebih tidak eksploitatif. Karena itu, walaupun bersifat indifference, Vogel melihat bahwa CSR tetap layak untuk diperjuangkan.

Mungkin Milton Friedman benar ketika mengemukakan bahwa the business of business is business. Adalah hakikat dari perusahaan untuk selalu mengedepankan keuntungan. Akhirnya memang ada batas yang bisa diharapkan dari sebuah entitas bisnis ini. Secara naluriah, perusahaan memang tidak bisa dipaksa menjadi sebuah institusi sosial.

Karena itu, jika kita menginginkan CSR terus berkembang dan terus meningkat karena kita percaya CSR adalah hal yang baik, perlu ada keterlibatan dari pemerintah untuk mengembangkan regulasi tentang CSR. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan regulasi ini.

Pertama, regulasi tersebut harus dapat menjamin bahwa CSR harus memenuhi berbagai kriteria yang memihak kedua belah pihak, misalnya harus berkelanjutan (sustainable) dan berhubungan dengan usaha yang dikembangkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan juga wajib merancang sebuah exit strategy untuk menghindari ketergantungan antara perusahaan dan masyarakat yang dibantunya.

Perusahaan juga harus memikirkan program CSR yang dapat memberikan kontribusi kepada masalah nasional. Program CSR perusahaan sudah saatnya dikaitkan dengan MDG (Millennium Development Goals).

Kedua, pemerintah juga harus memberikan insentif pajak kepada perusahaan yang memiliki CSR. Ketiga, pemerintah harus menciptakan sistem yang dapat mengeliminasi para free rider. Ini penting untuk menjamin fairness bagi masyarakat maupun perusahaan. Pemerintah harus mampu menjamin bahwa perusahaan terlindung dari para oknum masyarakat sipil atau pejabat yang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya diri dengan cara memeras perusahaan atau dengan memanfaatkan kekosongan hukum.

Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan menerapkan standar audit di kedua belah pihak (perusahaan dan penerima/beneficiaries). Sudah saatnya lembaga swadaya masyarakat pun juga harus akuntabel dan transparan.

Menghindari Corporate Social Irresponsibility

Ari Margiono
Senior Associate, Maverick

Belakangan ini corporate social responsibility (CSR), atau tanggung jawab sosial korporat (TJSK) menjadi buah bibir kalangan bisnis. Banyak perusahaan yang mulai memasukkan TJSK dalam strategi komunikasinya. Namun patut disayangkan, banyak perusahaan yang justru terjembab dalam praktik corporate social irresponsibility – sebuah niat baik yang terselewengkan.

Seringkali perusahaan tidak menyadari bahwa aktivitas TJSK yang dilakukan justru menimbulkan kerusakan bagi lingkungan yang dilibatkannya. Pada dasarnya perusahaan melibatkan diri di dalam community engagement dan development dengan tujuan untuk mendapatkan publisitas dan juga sekaligus untuk ikut membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Namun tidak jarang hal ini dilakukan tanpa pertimbangan yang matang atas berbagai dampak negatif yang dapat terjadi di sisi masyarakat. Kalkulasi yang dilakukan perusahaan seringkali hanya sebatas PR value yang akan dihasilkan dari liputan di berbagai media.

Alih-alih melakukan aktivitas TJSK, perusahaan justru melakukan corporate social irresponsibility.

Beragam pihak telah banyak mengkritik praktik ini karena dianggap merusak tatanan sosial masyarakat. Aktivitas yang demikian biasanya bersifat sesaat, tidak berkelanjutan, dan menempatkan masyarakat sebagai obyek untuk kepentingan perusahaan semata. Akibatnya, tingkat kebergantungan masyarakat terhadap bantuan perusahaan menjadi tinggi, dan masyarakat menjadi sulit untuk dapat berdiri sendiri.

Tidak jarang para aktivis LSM mencurigai aktivitas perusahaan yang demikian dilakukan semata-mata hanya untuk ‘menyogok’ masyarakat agar tidak melakukan protes dan dapat menerima keberadaan operasi perusahaan tersebut di tempat yang bersangkutan. Yang tidak disadari oleh perusahaan, pada jangka panjang aktivitas demikian justru dapat mendorong hal yang juga dapat merugikan perusahaan, misalnya pemerasan dan premanisme.

Melihat kenyataan ini, banyak pihak yang menuntut perusahaan untuk mulai menerapkan prinsip-prinsip moral secara menyeluruh dan menuntut perusahaan untuk juga menjadi believer dan do-gooder. Tuntutan yang ekstrem meminta perusahaan untuk menjadi altruistik.

Tetapi perlu disadari bahwa, walaupun banyak dikritik, sesungguhnya ada nilai kebenaran yang dikemukakan oleh Milton Freidman ketika mengemukakan bahwa tanggung jawab utama perusahaan adalah memupuk keuntungan untuk para pemilik saham. “The business of business is business”, ujarnya. Tidak dapat dipungkiri dan tidak perlu disangkal, hakikat perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan. Akan sulit untuk mengajak perusahaan untuk menjadi altruistik.

Tantangannya kemudian adalah menemukan titik temu antara kepentingan pragmatis perusahaan untuk memperoleh keuntungan dan kewajiban perusahaan – sebagai bagian dari warga masyarakat – untuk juga bertanggung jawab kepada lingkungannya. The business of business is business and people.

***

Oleh karena itu, sesungguhnya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan ketika merancang dan melaksanakan aktivitas TJSK dan untuk menjamin titik temu antara orientasi keuntungan perusahaan dan kewajiban kepada lingkungannya dapat terpenuhi.

Pertama, aktivitas TJSK harus dilakukan bukan pada saat perusahaan sedang mengalami krisis. Aktivitas TJSK yang dilakukan pada saat krisis akan cenderung rentan dan mudah untuk diserang dan dicurigai oleh berbagai pihak sebagai cara mudah untuk memperoleh publikasi. Perusahaan pun akan cenderung memiliki mind-set yang sangat pragmatis. Hal ini dapat merugikan masyarakat. Pada saat krisis, perusahaan seharusnya memberikan titik berat pada manajemen isu dan hubungan dengan media yang lebih intensif.

Aktivitas TJSK seharusnya dilakukan setelah krisis berakhir, atau pada masa dimana perusahaan berada dalam kondisi yang baik.

Kedua, aktivitas TJSK harus dirancang sedemikian rupa agar berkelanjutan dan relevan dengan core competence dari perusahaan. Hanya aktivitas TJSK yang berkelanjutan yang akan menguntungkan masyarakat dan akan menempatkan masyarakat sebagai subyek.

Selain itu, aktivitas TJSK yang tidak relevan dengan core competence dari perusahaan hanya akan menjadi beban untuk perusahaan tersebut. Ini karena berarti perusahaan harus menyediakan alokasi dana tersendiri untuk pengadaan sumber daya yang dibutuhkan pada aktivitas ini. Misalnya, pada aktivitas corporate philanthropy. Sementara perusahaan yang menyesuaikan aktivitas TJSK dengan core competence dapat mengurangi biaya yang timbul karena dapat menggunakan sumber daya yang tersedia dalam perusahaan untuk aktivitas TJSK.

Ketiga, sangat penting perusahaan yang menyelenggarakan aktivitas TJSK untuk mengembangkan exit strategy. Asumsi dari penyelenggarakan TJSK adalah anggapan bahwa perusahaan hanya menjadi katalis dan tidak akan berada di tengah-tengah masyarakat untuk membantu mereka selamanya.

Aktivitas TJSK yang sukses adalah aktivitas yang mampu dilanjutkan oleh masyarakat ketika perusahaan sudah tidak lagi terlibat di dalamnya.

Exit strategy berbentuk program-program pemberdayaan masyarakat, capacity building, dan transfer of knowledge. Cara-cara terbaik (best practices) yang pernah dilakukan oleh perusahaan ketika melakukan aktivitas TJSK di tempat tersebut dapat disampaikan kepada masyarakat. Selain itu, capacity building yang mutlak dibutuhkan biasanya adalah manajemen proyek dan penggalangan dana.

Dengan memperhatikan ketiga hal esensial ini, corporate social irresponsibility dapat dihindarkan. Pada akhirnya, perusahaan dapat melakukan aktivitas TJSK secara lebih tepat, lebih bermanfaat, dan lebih baik untuk semua pihak.